얀녕하세요 ^^

얀녕하세요 ^^

Minggu, 18 November 2012

SASTRA KOREA KLASIK


1. Hyangga

Sejak awal musik dan tari memegang peran yang penting bagi masyarakat Korea, dan karena hal itu banyak orang Cina yang tertarik. Sejak ada sistem huruf beberapa syair personal ditemukan tetapi karena tidak sesuai zaman maka sudah tidak ditampilkan. Hyangga adalah puisi-puisi yang ditulis dalam sistem penulisan asli, ditulis pada tiga negara, silla bersatu, dan periode awal goryeo dalam sejarah korea. Hanya sebagian kecil yang tersisa. Total jumlahnya berkisar antara 25 dan 27, tergantung pada hyangga tertentu yang dianggap asli atau tidak.
Nama hyangga didapatkan dari huruf “desa” atau “desa kecil,” (digunakan oleh orang silla untuk menggambarkan bangsa mereka) dan huruf “lagu.”  Puisi2 ini kadang disebut juga lagu silla.
Hyangga merupakan sastra Korea klasik jenis puisi yang unik. Ditulis ulang kebahasa Cina dengan sistem fonetik yang disebut hyangch’al, mirip dengan Man’yeosheu (c. 759). Hyangga awal dipercaya ditulis dalam periode goryeo, karena gaya penulisan ini mulai hilang. Contoh dari Hyangga terdiri dari 25, 14 dalam buku memorabilia and Mirabilia of the Three Kongdoms (sangug Yusa, 1285) dan 11 pada buku Life of the Great Master Kyunyeo (Gyunyeojeon. Wihong, suami ratu jinseong dari silla,) dan biksu taegu hwasong menyusun buku tentang hyangga.
Jenis syair yang ditulis dalam aksara tionghoa dengan sistem idu. 20 dari 25 Hyangga berisi tentang ajaran Buddha, merefleksikan kehidupan masa kerajaan Silla dan Goryeo yang pada saat itu sedang dipengaruhi oleh Buddha.
Hyangga masih mengikuti aturan/ bentuk formal dan biasanya tersusun atas 4, 8 dan 10 bari Puisi dengan 10 baris adalah yang paling berkembang, dibentuk menjadi tiga bagian dengan 4, 4, dan dua baris bergantian. Kebanyakan puisi sepuluh baris ditulis oleh pendeta budha, sehingga tema – tema tentang agama budha mendiminasi puisi jenis ini. 
Biasanya berbentuk balada dan berisi tentang kesadaran kehidupan beragama dan bangsawan-bangsawan. Tema lain yang dominan adalah kematian. Banyak diantara puisi ini adalah puji-pujian bagi pendeta, ksatria, dan anggita keluarga, contohnya kepada saudara perempuan. Periode silla khusunya sebelum penyatuan pada 6698 adalah saat – saat perang dan hyangga menceritakan kesedihan dan duka bagi yang meninggal, sedangkan agama budha memberikan penjelasan tentang kemana mereka pergi dan kehidupan sesudah mati.
Hyangga yang umum adalah “Ode untuk kehidupan abadi,” atau mungkin “ode untuk surga.” Puisi ini adalah lagu yang memanggil bulan untuk menyatakan doa untuk surga barat, rumah Amita (atau amitabha – surga barat budha). Penulis puisi ini masih belum jelas, ada yang mengatakan bahwa penulisnya adalah seorang biksu bernama Gwangdeok, atau sumber lain mengatakan bahwa penulisnya adalah istri sang pendeta. Meskipun demikian Hyangga sebagian besar ditulis oleh prajurit.

2.  Goryeo Gayo atau Lagu Goryeo
Merupakan contoh puisi Korea jaman pertengahan yang memiliki ciri pengulangan refren yang menunjukan asal musik tradisional dan transmisi oral mereka. Biasanya dinyanyikan dengan diiringi musik terutama suara drum dan oleh penyanyi perempuan yang diberi nama kisaeng. Jeong Cheol, seorang penyair pada abad 16, dikenal sebagai orang yang menyempurnakan bentuk puisi ini, yang terdiri atas baris paralel, tiap barisnya terbagi menjadi dua atau empat unit suku kata. Goreo Gayo muncul setelah hilangnya Hyangga pada dinasti Goryeo.
Goryeo gayo mempunyai bentuk khusus yakni byeolgok. Goryeo gayo dibagi dalam dua jenis yakni dallyeonche dan yeonjanche . Dallyeonche tersusun atas satu bait sementara yeonjanche tersusun atas banyak bait.  Satu syair yang terkenal adalah Gwandong byeolgok (byeolgok pesisir timur) yang menceritakan keindahan pantai di laut timur Gangwon.
Identitas penulis Goreo Gayo biasanya tidak dikenal atau anonim. Merupakan jenis sastra lisan yang dinyanyikan tetapi pada dinasti choson ini direkam dan ditulis ke naskah yang berbahasa Korea.
Lebih bebas dan tidak terikat oleh aturan formal (puisi bebas). Biasanya berisi realitas kehidupan dalam cinta, kehidupan sehari hari dan keindahan alam.

3. Sijo
Sijo adalah bentuk puisi yang mewakili periode Choson, berkembang pesat pada masa Choson meskipun pada masa akhir Goryeo Gayo sudah ada. Merupakan karya sederhana namun artistik
Sijo ditulis menggunakan bahasa asli Korea bukan dengan aksara Cina. Sijo terdiri dari 3 bait dengan masing-masing bait terdiri atas 4 kalimat. Tiga baris dengan 14-16 suku kata, total dalam sebuah sijo, 44-46 (tema (3, 4, 4, 4); pengembangan (3, 4, 4, 4), balasan untuk tema, (3,5) dan pelengkap (4,3). Sijo bisa dalam bentuk naratif atau tematik dan memperkenalkan situasi pada baris 1, perkembangan pada baris 2, dan kseimpulan dan akhir yang berbeda pada baris ke 3. Setengah pertama baris terakhir menunjukkan “twist/ pemelintiran/ akhir yang berbeda;” makna, suara, dan hal lain yang mengejutkan. Sijo sering sangat liris dan bersifat pribadi dibanding bentuk puisi asia timur lain, namun “kesimpulan dari sijo sering epigramatis atau mengejutkan”
Sijo sebagian besar ditulis oleh penyair penyair yang masih menguasai tentang konfusianisme, dan biasanya bertema kesetiaan. Dan selain itu tema tentang bukolik, metafisik, dan kosmologis adalah yang peling sering dipelajari.
Beberapa penyair Sijo yang terkenal antara lain Hwang Chin-i (c. 1506-1544) dan Cheong Ch’eol (1537-1594).
Sijo merupakan bentuk puisi yang paling populer dari Korea, digemari oleh kaum bangsawan sampai rakyat jelata diekspersikan dengan unsur unsur dari alam. Lalu semakin lama sijo dimasukan unsur satir dan humor berisi kritikan dan sindiran.

4. Kasa
Kasa juga muncul dan berkembang pesat di zaman Joseon, terutama pada kalangan bangsawan. Merupakan lirik lagu untuk nada Kasa, tidak ada pembagian stansa. Panjangnya Kasa  bervariasi tetapi cenderung panjang. Dan cenderung beisi deskripsi dan eksposisi, begitu juga liris. Bentuk Kasa merupakan bentuk bait yang sederhana, dengan tiga bait yang memiliki 3 hingga 4 suku kata per baitnya yang diulang empat kali. Karena sifat isinya yang berbeda-beda, ada beberapa yang melihat Kasa sebagai semacam esai, seperti dalam periode awal Joseon misalnya, Kasa seperti Chong Kuk-in's Sangch'un-gok (Tune in Praise of Spring), Song Sun's Myonangjongga (Song of Myonangjong Pavilion), dan Chong Ch'iol's Kwandong pyolgok (Song of Kwandong), Samiin-gok (Song in Recollections of a Beautiful Woman) dan Songsan pyolgok (Song of Mt. Songsan), dan lain sebagainya.
Kasa muncul sebagai genre baru pada pertengahan abad ke15 bentuknya lalu disempurnakan oleh beberapa ahli yaitu Cheong Ch’eol (1537-1594) dan Heo Hanseorheon (1563-1585).Kasa berisikan tema-tema yang umum seperti ekspresi perasaan, keindahan alam, cinta pria wanita (kesetiaan), kehidupan manusia, hubungan manusia dengan alam, dan pencerahan rohani. Merupakan transisi dari puisi ke Prosa puisi. Tidak terbatas ekspresi individual tertapi mencakup nasihat moral.Selain itu terdapat naebang kasa (kasa of the women's quarters) yang ditulis oleh perempuan. Kasa ini mendapatkan popularitas luas. Secara khusus, kasa pada periode terakhir mengalami perubahan bentuk, menjadi lebih panjang dan membosankan.

Pustaka acuan :

Wikipedia.com
Lee, Peter H. 1981. Anthologi of Korean Literature. University of Hawaii press.




Jumat, 09 November 2012

Sekilas Tentang Konfusianisme di Korea


Pengertian Konfusianisme
Konfusianisme, Taoisme, dan Buddha merupakan tradisi kepercayaan Korea di masa lalu. Namun Konfusianisme telah mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat di Korea. Konfusianisme adalah suatu ajaran filosofi moral yang masuk ke Korea dari Cina pada zaman Tiga Kerajaan. Dalam ajaran ini dikenal lima dasar hubungan antar manusia:
1.      Hubungan antara penguasa dengan rakyat
2.      Hubungan antara ayah dengan anak laki-lakinya
3.      Hubungan antara seorang laki-laki dengan istrinya
4.      Hubungan antara kakak dengan adik
5.      Hubungan antar teman.
‘Kesetiaan’ dan ‘kesolehan’ merupakan wujud kewajiban paling utama yang harus sela­lu dipatuhi dalam menjalani kelima hubungan tersebut.
Penemu Konfusianisme adalah Konfusius yang nama asli ajarannya adalah “yu” (Kementrian Kebudayaan dan Olahraga Republik Korea, 1997:57). Nama asli Konfusius sendiri adalah Kong Fuzi atau Master Kung. Konfusius merupakan bahasa latin dari nama Cinanya (Dorothy, 2004:8).
Beberapa aspek ajaran konfusianisme yang memberi andil yang besar pa­da pembentukan masyarakat Korea antara lain: pertama, Konfusianisme menawarkan standart moral yang meliputi moral individu, atur­an moral dalam hidup bermasyarakat dan aturan moral yang berhubungan dengan negara. Moral-moral tersebut didasari pada 5 nilai utama, yaitu kebajikan, kebenaran dan keadilan, etika, kebijaksanaan dan kepercayaan. Kedua, Konfusianisme menekankan pendidikan. Konfusianisme berpengaruh pada tujuan, metode dan kurikulum sekolah. Ba­ik pa­da pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal yang dila­kukan di rumah, konfusianisme mempunyai peran dalam membentuk karakter orang Korea. Ketiga, ritual Konfusian pada pemujaan leluhur menjadi sebuah bagian yang utuh dari kehidupan Korea. Upacara tersebut biasanya dipraktekan saat upacara pemakaman, tradisi Konfusianisme diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Keempat, Pandangan orang Korea tentang manusia dan dunia sangat dipengaruhi ajaran konfusianisme. Ajaran Konfuisianisme tetap kuat dalam kehidupan masyarakat Korea walaupun perannya semakin berkurang (Keum, 2000:33-34).
Masuknya Konfusianisme ke Korea secara tidak langsung mempengaruhi kebudayaan Korea. Ada tiga cara dimana Konfusianisme mempengaruhi kebudayaan Korea yakni, pengaruh budaya, pengaruh politik, dan pengaruh sosial. Pengaruh budaya dimana Konfusianisme mempengaruhi seni, huruf, pendidikan, dan filosofi. Ini adalah tahap pertama dalam mempengaruhi kerajaan kuno di Korea. Pengaruh politik dibangun pada budaya yang telah terpengaruh (Grayson, 2002:49).Konfusianisme dan mengadopsi perkembangan filosofi politik yang mengawali peciptaan birokrasi negara dan struktur pemerintahan formal dengan berbagai fungsi politik dan memeriksa fungsi pemerintahan. Kemudian pengaruh sosial dimana Konfusianisme merestrukturisasi asas masyarakat, meliputi adat istiadatdan nilai, terutama perubahan dalam hubungan sosial. Ini adalah tahap terakhir Konfusianisme di Korea. Sampai pada dinasti Choson, pengaruh Konfusianisme di Korea sangat besar di are politik dan urusan kebudayaan, hampir tidak menyentuh lingkungan sosial


 Perkembangan Konfusianisme di Korea.
Konfusianisme di Korea berkembang dari masa ke masa. Konfusianisme berkembang pertama kali dari Tiga Kerajaan dan semakin berkembang di masa Dinasti Koryo, Choson, setelah kemerdekaan dan pada masa budaya kontemporer Korea.

1)      Konfusianisme Pada Masa Tiga Kerajaan.
Konfusianisme masuk ke Korea dari Cina melalui politik dan kebudayaan. Tidak ada tanggal pasti mengenai masuknya Konfusianisme dari Cina ke Korea, namun bukti-bukti menunjukan bahwa Konfusianisme datang sebelum masa Tiga Kerajaan. Oleh karena itu diasumsikan bahwa Konfusianisme diperkenalkan ke Korea antara 403-221SM (Keum, 2000:34).
Tiga kerajaan merupakan gabungan dari kerajaan Koguryo, Paekche, dan Silla. Raja Jumong mendirikan Kerajaan Koguryo pada tahun 37 SM, Raja Oryo mendirikan Kerajaan Paekche pada 18 SM, dan Kerajaan Silla pada tahun 57 SM dengan raja pertamanya Pak Hyogose (Yang dan Setiawati, 2003: 15).
Kerajaan Koguryo berlokasi paling dekat dekat dengan tiongkok, daerah Yomyong, Liaoning, sekarang terletak di wilayah Manchuria. Koguryo pertama kali mengadopsi Budaya Tiongkok dan Buddha. Konfusianisme pertama kali diterima di Koguryo kemungkinan sejak abad ke-4 Masehi, lalu berturut-turut ke Paekche dan Silla, saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan (Grayson, 2002:49).
Di abad ke-4 seperti Koguryo dan Paekche mengadopsi dan menyerap Konfusianisme dari Cina. Pengadopsian pengetahuan mengenai Konfusianisme dan sistem pendidikan Konfusianisme adalah sebuah arti penting budaya dan standar politik Korea yang tinggi. Pengadopsian Konfusianisme di satu bentuk atau lainnya tidak berarti negara itu kemudian menjadi masyarakat Konfusianisme, tetapi hanya menerima pengaruh Konfusianisme yakti budaya alam (Grayson, 2002:49).
Pada akhir pertengahan abad ke-4 banyak muncul sekolah-sekolah yang berbasis kepada ajaran-ajaran Konfusianisme. Peristiwa besar yang terjadi di akhir pertengahan abad ke-4 adalah penerapan ajaran Konfusianisme. Tulisan-tulisan tentang Konfusianisme yang disusun wajib dibaca di sekolah resmi yang pertama didirikan di Koguryo pada 375 M (Keun, 2000:35). Pendirian akademi ini diikuti segera dengan pembinaan berbagai akademi swasta bernama Kyongdang. Meskipun tujuan sekolah-sekolah ini untuk mendidik pemuda Koguryo dengan ideologi Konfusianisme klasik, literatur Cina, dan bela diri, aturan mereka dengan membatasi merusak salah satu aspek penting Konfusianisme (Grayson, 2002: 49-50). Di selatan Paekche, seorang cendikiawan bernama Kohung menyusun sebuah buku sejarah (sogi), yang ditulis pada masa Cina klasik tahun 375. Koguryo menggunakan Tao sebagai prinsip panduan Konfusianisme. Tidak hanya Koguryo, paekche dan Silla juga melaksanakan ajaran Konfuasianisme yang idela bagi pemerintahan (Keum, 2000:35).
Kerajaan Silla merupakan kerajaan terakhir yang mendapat pengaruh Konfudianisme pada masa Tiga Kerajaan setelah Koguryo dan Paekche yang sudah mendapatkan pengaruh Konfusianisme bertahun-tahun sebelumnya. Pada masa Silla terdapat Kukhak, yakni sekolah yang mengajarkan Konfusianisme yang dikelola oleh para ahli Konfusianisme dan pembantunya (Yang dan Setyawati, 2003: 36). Loyalitas, bakti, dan keberanian antara kebajikan-kebajikan utama yang beranggotakan pemuda Hwarang Silla, terkemuka dalam pengetahuan dan seni bela diri. Kebajikan-kebajikan ini juga merefleksikan nilai-nilai Konfusianisme yang dipegang secara luas oleh mereka. Konfusianisme sesuai dengan keadaan manusia, sedangkan ajaran Buddha lebih memperlihatkan masalah rohani. Orang-orang Silla lebih tertarik kepada Konfusianisme dibanding Buddha. Konfusianisme merupakan elemen penting dalam filosofi sosial pada era Tiga Kerajaan, suatu masa dimana Buddha juga berkembang (Keum, 2000:35-36)

2)      Konfusianisme Pada Masa Dinasti Koryo
Koryo berdiri pada tahun 918 dengan Raja Taejo sebagai raja pertama. Kebudayaan bangsa Korea yang berlandaskan Konfusianisme berkembang pesat pada masa ini (Yang dan Setiawati, 2003: 42). Pada masa Kerajaan Koryo perkemabangan bangsa Korea tidak hanya pada kebudayaan yang berlandaskan Konfusianisme tapi juga perkembangan pendidikan mengenai Konfusianisme. Pertumbuhan institusi pendidikan Konfusianisme dimulai pada abad ke-10 dan terus berlanjut sampai abad ke-11. Terutama penting bagi penciptaan sekolah swasta pendidikan Konfusianisme. Sebelumnya, pendidikan formal Konfusianisme merupakan hak khusus pemerintahan (Grayson, 2002:90).
Selama masa pemerintahan raja Songjong fungsi upacara pada leluhur didedikasikan untuk surga. Pengabdian kebajikan orang-orang Korea semula didedikasikan untuk konfusius. Neo-konfusianisme menjadi gelombang baru di Korea menjelang akhir dinasti Koryo (Keum, 2000: 37). Neo-konfusianisme memiliki perbedaan yang besar dalam memandang alam semesta dan dunia dibanding Buddha. Neo-konfusianisme percaya bahwa seseorang harus menerima dan mengerti sifat dasar dari alam semesta dan mendirikan filosofi pemerintahannya dan bekerja lebih keras untuk mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari (Yi, 1997;16-17).
Konfusianisme di Korea berpindah dari satu diantara pengaruh beberapa politik dan budaya menjadi pengaruh sosial utama. Dalam era ini, sistem Konfusianisme sosial yang sesungguhnya mulai muncul (Grayson, 2002: 104).

3)      Neo-konfusianisme Pada Masa Dinasti Choson
Choson berdiri pada tahun 1392 dengan raja pertamanya Yi Song-gye. Pada masa Choson ilmu Konfusianisme dijadikan sebagai dasar teori dalam memerintah kerajaan (Yang dan Setyawati, 2003: 65).
Penciptaan pemerintahan baru Choson tidak hanya melahirkan dinasti Korea baru, tetapi juga membuat ajaran Konfusianisme lebih kuat. Berbeda dari dinasti lain terdahulu, ideologi Kerajaan Choson berdasar pada filosofi Konfusianisme. Dari abad ke-5, pengaruh Konfusianisme menjadi penanda pengaruh sosial bukan sekedar pengaruh politik dan sosial (Grayson, 2002: 112). Struktur pemerintahan dipengaruhi untuk dapat mendirikan kerajaan yang berlandaskan Konfusianisme (Yang dan Setyawati, 2003: 65). Dalam proses pengembangan institusi dan penguatan ekonomi pada abad ke-15, praktek etika dan aspek ritual Neo-konfusianisme menekankan pada aspek filosofi di Choson (anonim a, 20002: 67).
Pada awal abad ke-17, Neo-konfusianisme berkembang dengan penanganan khusus pada ajaran etika. Ajaran Neo-konfusianisme berpusat pada ritual keluarga. Periode ini melihat pembudayaan etiket populer dan untuk mengerahkan pengaruh yang lebih besar pada kehidupan masyarakat. Etiket keluarga bervariasi atara strata masyarakat yang berbeda-beda, tapi secara luas dipraktekan oleh keluarga biasa. Meskipun berbeda dengan penerapannya, akan tetapi semua praktek didirikan oleh prinsip yang sama ( Keum, 2000: 41). Pada abad ini, ahli Neo-konfusinisme menegaskan kekuatan mereka walaupun terjadi kerusuhan didalam dan diluar. Invasi Jepang pada 1592 dan 1597 serta invasi Manchu pada 1636 memberikan sebuah kesempatan untuk menguji kembali peran Neo-konfusianisme sebagai ideologi dominan. Pembelajaran ritual berkembang pesat pada abad 17 sebagai sebuah pelajaran ilmiah. Pembelajaran dinamakan “Masa Pembelajaran Agama” dan banyak kontroversi terjadi pada saat itu (anonim a, 2002: 74-79).
Awal abad ke-18, kontroversi menggelora diantara ahli Neo-konfusianisme seperti perbedaan klasik antara manusia dan persoalan yang ada. Peristiwa ini membuktikan bahwa Non-konfusianisme di Kerajaan Choson diperhatikan dengan fokus studi kemanusiaan (Keum, 2000: 42).
Ketika Katolik masuk ke Korea pada 1784, Neo-Konfusianisme berusaha menekan usaha masuknya agama ini ke Korea. Rintangan besar menerima Katolik  oleh masyarakat Choson adalah Katolik melarang pemujaan kepada leluhur, upacara Konfusianisme yang paling dasar. Kekerasan dan sistem kepercayaan fanatik masyarakat Choson yang diatur oleh Konfusianisme, menolak masuknya Katolik (Keum, 2000: 43-45).

4)      Konfusianisme Pada Masa Kemerdekaan
Bersama dengan bebasnya Korea dari Jepang pada 1945, Para ahli Konfusianisme membangun kembali jaringan organisasi mereka. Pada bulan Maret 1946, perwakilan berkumpul untuk membuka pusat Yudohe (Masyarakat Konfusius). Sebagai afiliasinya yayasan Songgyun’gwan didirikan untuk mengambil alih manajemen Songgyun’gwan ( Akademi Konfusius Nasional) di Seoul dan Hyanggyo (akademi lokal) dibagian lain Korea. Pada bulan Sepetember tahun 1946 didirikan Universitas Songgyun’ gwan atas usaha Kim Chang- Suk (Keum, 2000:46).
Pada tahunn 1980, pengikut ajaran Konfusius mengadakan inagurasi Lembaga Penelitian Konfusius pada 1985 untuk mendorong penelitian ilmiah melalui seminar berkala dan terbitan jurnal yang mendorong sebuah reinterpretasi modern ideologi Konfusius Tradisional (Keum, 2000: 49).

5)      Konfusianisme dan Budaya Komtemporer Korea
Saat ini, nilai-nilai modern barat mengancam nilai-nilai ortodoks Konfusianisme tradisional Korea. Kebudayaan Korea mengakar kuat pada Konfusianisme dimana bertanggung jawab untuk mempertahankan peninggalan negara yang dihormati dan memperkaya perkembangan kebudayaannya.
Pertama, Konfusianisme harus mendukung integritas dan keberlanjutan sejarah Korea dengan reformasi dan menyesuaikan diri dengan masyarakat kontemporer. Kedua, Konfusianisme bisa memberikan masyarakat kontemporer Korea dengan sebuah standar praktik pelaksanaan dalam bentuk ritual dan etiket. Ketiga, Konfusianisme memperkuat struktur masyarakat. Keempat, moral Konfusius dan karakternya dikontribusikan untuk kehidupan masyarakat Korea di masa kini. Kelima, semangat Konfusius akan dijalankan sebagai tenaga penggerak manusia untuk mencari keadilan.
Konfusianisme Korea adalah sesuatu di masa lalu. Konfusianisme masih bertahan sampai saat ini. Tugas mendesak bagi komunitas Konfusius Korea adalah menyesuaikan fungsinya pada kondisi yang berlaku di masyarakat modern melalui sebuah reformasi dinamis dan aktivitas (Keum, 2000: 49-51)


 Nilai-nilai Ajaran Konfusianisme
Konfusianisme mengajarkan sebuah nilai  moral yang berdasarkan pada etika kemanusiaan, dan cinta. Konfusius mengajarkan filosofi yang menekankan pada ketentraman dan keharmonisan, meskipun ia hidup pada masa kerusuhan. Dalam filosofinya, seorang laki-laki adalah orang yang mengembangkan 5 nilai kesopanan (cinta, hormat, peduli, diskriminasi, dan loyal), kemurahan hati, kesetiaan, ketekunan, dan kebaikan (Dorothy, 2004: 8). Menurut Konfusianisme terdapat 5 elemen dasar manusia yakni ren, yi, li, zhi, xin (Wenhuai Chai dan Xu Yuang, 2006: 368).
Ren berarti kebajikan.
Yi berarti keadilan.
Li berarti kesopanan.
Zhi berarati kebijaksanaan.
Xin berarti kesetiaan.

Keluarga adalah lingkungan inti dalam pendidikan moral dan merupakan jembatan antara individu dan masyarakat. Konfusius menekankan tugas dan kewajiban setiap anggota keluarga dan percaya masing-masing harus bersikap berdasarkan pada perannya. 5 hubungan manusia menurut Konfusius 3 didalam keluarga, yakni:
 Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya.
 Hubungan suami dengan istrinya.
Hubungan kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya.

Dua hubungan lain yang disebutkan Konfusius adalah hubungan diluar keluarga, yakni:
Hubungan teman dengan teman.
Hubungan penguasa dengan rakyat.

Hubungan yang terpenting adalah hubungan ayah dengan anak laki-lakinya. Anak laki-laki memberikan perhatian dan patuh pada ayahnya. Sebagai anak laki-laki dewasa, anaknya harus menghormati ayahnya meskipun ayahnya sudah meninggal. Anak laik-laki bertanggung jawab untuk persembahan pada jiwa ayahnya (Dorothy, 2004: 10).
Dinasti Choson mulai menyebarkan etika sosial Neo-konfusianisme, 3 ikatan dan 5 hubungan (samgang oryun) merupakan nilai dasar dari etika sosial Konfusianisme (anonim a, 2002: 66). Neo-konfusianisme meliputi hubungan yang lebih luas dan lebih fleksibel dibandingkan dengan Konfusianisme klasik. 5 hubungan dalam ajaran Neo-konfusianisme pada masa dinasti Choson sama dengan 5 hubungan yang dikemukakan konfusius dalam ajaran konfusianisme klasik. Neo-konfusianisme pada masa dinasti Choson menambahkan 3 ikatan dalam ajarannya. 3 ikatan yang dikemukakan itu adalah:
Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya.
Hubungan suami dengan istri.
Hubungan penguasa dengan rakyat.

3 ikatan dan 5 hubungan tersebut diaplikasikan diseluruh hubungan sosial termasuk istri dan selir, anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah dan tidak sah, majikan dan pembantu, serta pemilik tanah dan penyewa tanah (anonim a, 2002: 66).

Chai, Wenhua, Yang Xu. 2006. Traditional Confucianism in Modern Cina: Mayifu’s Ethical Trought dalam Frontiers of Philosophy in China, Vol 1, No.3.
Keum, Jang-Tae. 2000, Confucianism and Korea Thought. Seoul: Jimoondang.

Kamis, 18 Oktober 2012

I am Child


Kangen banget ma anak-anak ini, kangen senyum akrab mereka, pelukan manja mereka, rangkulan nakal mereka dan cerita-cerita lucu dari mulut mereka yang mungil. Hmmm, melihat tawa mereka menimbulkan sensasi damai..mungkin sedamai melihat malaikat bersayap:)

Perang Korea


Kemenangan Sekutu atas Italia (Juni 1943) dan Jerman (Mei 1945), telah membangkitkan harapan bangsa Korea untuk mencapai kemerdekaan. Kekalahan Jerman dan tentunya menempatkan Jepang pada posisi yang sulit karena harus berjuang sendiri melawan Sekutu karena Jepang sendiri berada dipihak yang sama dengan Jerman dan Italia. Pemboman kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Sekutu, menandai berakhirnya kekuatan Jepang di wilayah Asia.Uni Soviet yang sudah lama mengincar wilayah Korea, bergerak maju dan menduduki daerah Manchuria dan wilayah Korea bagian utara. Amerka Serikat yang tidak menghendaki Uni Soviet menjadi kekuatan baru di wilayah Asia Timur dan menyebarkan paham komunisnya, berusaha mencehag Uni Soviet menguasai wilayah Korea.
Pada tanggal 10-11 Agustus 1945, kedua negara sepakat untuk memebagi wilayah Korea menjadi dua wilayah pendudukan. Korea bgian utara menjadi wilayah kekuasaan pemerintah komunis Uni Soviet, sedangkan bagian selatan dibawah kedudukan Amerika Serikat.Wilayah pendudukan kedua negara dipisahkan oleh garis 38̊ LU. Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang resmi menyerah kepada Sekutu. Dengan demikian, kekuasaan Jepang di setiap negara negara yang dijajahnya berakhir. Bagi bangsa Korea sendiri hal itu berakhir akhir dari masa perjuangan merebut kemerdekaan yang panjang, setelah selama 35 tahun menderita dibawah penindasan Jepang.
Pada tanggal 8 September 1945, tentara Amerika Serikat mendarat di Inch’on. Pada tanggal 11 September terbentuk pemerintahan yang bernama Pemerintahan Militer Amerika Serikatyang menggantikan Pemerintah Kolonial Jepang. Sementara itu, keberadaan Pemerintahan Sementara Republik Korea yang berada dibawah pimpinan Kim Ku sama sekali tidak diakui oleh Pemerintah Militer Amerika Serikat.
Konferensi Tiga Meneri- Amerika Serikat, Inggris dan Uni Soviet- di Moscow pada bulan Desember 1945, telah memutuskan Korea berada dibawah perwakilan dan pengawasan Sekutu selama lima tahun. Perwakilan dan pengawasan terhadap Korea akan dilakukan oleh pemerintah sementara yang akan didirikan di Korea. Keputusan ini ditentang oleh rakyat Korea yang menginginkan kemerdekaan penuh bagi negaranya.
Para pemimpin perjuangan Korea merasa perlu membentuk Komite Persiapan Kemerdekaan dengan maksud untuk mengatasi kekhawatiran akan hadirnya Sekutu bersama pemerintahan bentukannya di Korea, yang mungkin dapan mengancam kedaulatan Korea. Para pejuang yang beraliran komunis berperan dan berpengaruh besar dalam aktivitas komite itu. Akhirnya, pemimpin nonkomunis mengeluarkan mereka dari keanggotaan komite itu. Hal ini mendorong kelompok komunis untuk membentuk komite yang berbeda haluan, yaitu komite sayap kiri, dan menempatkan posisi mereka sebagai pendukung isi perjanjian Moskow. Pemisahan ini selanjutnya menjadi kendala bagi bangsa Korea untuk mempersatukan kelompok yang beraliran komunis dan nonkomunis.
Untuk mewujudkan isi perjanjian Moskow, Amrika Serikat dan Uni Soviet membentuk komisi Gabungan pada bulan Maret 1946. Pada bulan Mei 1946, perundingan antara kedua negaratersebut mengahadapi jalan buntu. Hal itu disebabkan keduanya memiliki perbedaan pendapat. Uni Soviet menghendaki agar partai politik dan organisasi sosial Korea yang menentang pelaksanaan perjanjian Moskow, tidak diikutsertakan dalam proses perundingan. Sebaliknya, pihak Amerika Serikat bersikeras agara siapa saja dan kelompok apa saja berhak mengajukan pendapat dan turut dalam perundingan. 
Pada bulan Mei 1947, Komisi Gabungan Amerika Serikat dan Uni Soviet berunding kembali, tetapi mengalami kegagalan. Akhirnya, Amerika Serikat mengajukan masalah Korea kepada PBB. Sidang Umum PBB memutuskan bahwa pemilihan umum untuk memilih presiden Korea akan dilaksanakan di Korea di bawah pengawasan Komisi Sementara PBB (UNTCOK). Selain tiu, tentara Amerika Serikat dan Uni Soviet juga akan ditarik segera setelah pemerintahan Korea terbentuk. Namun pemilihan umum ini tidak dapan dilaksanakan di Korea bagian utara karena pihak Uni Soviet yang tidak menyetujui hasil keputusan Sidang Umum tersebut, menghalangi usaha PBB untuk memasuki wilayah utara.
Pemilihan di Korea selatan berlangsung pada bulan Mei 1948 di tengah kekhawatiran beberapa tokoh Korea Selatan akan terjadinya pembagian Semenanjung Korea secara permanen. Dari pemilu itu lahir pemerintahan baru Republik Korea yang berlandaskan sistem demokrasi dan kapitalisme pada tanggal 15 Agustus 1948 dengan Rhee Syngman sebagai presiden pertamanya. Pemilihan umum yang berhasil membentuk Republik Korea itu dibalas oleh Korea Utara dengan mengadakan pemilihan umumnya sendiri pada tanggal 25 Agustus 1948 yang berhasil membentuk Republik Demokrasi Rakyat Korea dengan Kim Il Sung sebagai perdana menterinya. Kedua pemerintahan itu saling mengklaim bahwa mereka satu-satunya pemerintahan yang sah di Semenanjung Korea.
Pada akhir tahun 1948 Uni Soviet mengundurkan diri dari peranannya di Korea Utara dan diikuti oleh Amerika Serikat pada bulan Juni 1949. Mundurnya kedua kekuatan raksasa itu meninggalkan situasi yang sangat panas di Semenanjung Korea. Terbentuknya dua pemerintahan yang berbeda ideologi dan berada di bawah pengaruh dua negara adi kuasa ini memupuskan harapan rakyat Korea untuk mewujudkan suatu bangsa yang merdeka dan bersatu.
Pada bulan januari 1950, Amerika Serikat mengumumkan bahwa wilayah Korea berada diluar wilayah pengawasan militernya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Korea Utara yang sudah lama menginginkan penyatuan Korea dibawah kekuasaannya untuk menyerang Korea Selatan dan Pada dini hari tanggal 25 Juni 1950, tanpa peringatan atau pernyataan perang, massa tentara Korea Utara melintasi garis batas tiga puluh delapan derajat dan menyerbu ke bawah bagian selatan. Pasukan Republik yang bertempur dengan gagah berani tidak mampu menghadapi kaum Komunis yang bersenjata lengkap dengan tank T-34 Rusia. Pemerintahan terpaksa dipindahkan ke Pusan ​​dan ribuan warga Seoul melarikan diri sebelum serangan komunis sampai pada mereka. Mereka tidak diperiksa sampai mencapai Sungai Naktong di wilayah tenggara dekat Daegu.
Republik Korea langsung melakukan protes ke Sekjen PBB. Sebagai tanggapan, Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan resolusi yang memerintahkan komunis untuk menarik kembali pasukan ke garis batas  tiga puluh delapan derajat dan mendorong semua negara anggota PBB untuk memberi dukungan militer kepada Republik Korea Selatan. Amerika Serikat segera mendatangkan pasukan dan selanjutnya bergabung Kanada, Australia, Filippines dan Turki. Di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur mereka mulai  untuk mengambil inisiatif, dan setelah pendaratan kejutan Pasukan militer AS di Inch'on, pada tanggal 28 September 1950 Seoul akhirnya dapat direbut kembali dari cengkraman komunis Korea Utara. Pasukan PBB bahkan dapat memukul mundur pasukan Korea Utara hingga wilayah timur laut Ch’ongjin, Sonch’on dan daerah sungai Yalu di Hyesanjim.
Namun demikian, kemenangan tidak berlangsung lama setelah kejadian tersebut maka mendorong Komunis China untuk turun tangan membantu Korea Utara. Komunis China baru turun tangan pada bulan Oktober. Tentara China muncul dan mengambil alih strategi, kali ini pasukan PBB dipukul mundur sampai ke wilayah Sungai Han bagian selatan danSeoul sekali lagi jatuh ketangan komunis pada tanggal 4 Januari 1951. Para pasukan PBB terpaksa berkumpul kembali dan melancarkan serangan balik yang kembali mengambil Seoul pada 12 Maret tahun yang sama. Serangan pasukan  tersebut berhasil dan Seoul kembali hingga sampai kurang lebih perbatasan tiga puluh delapan derajat, di mana konflik itu dimulai.
Pada titik ini Rusia menyerukan perundingan gencatan senjata, pada awalnya perjanjian gencatan senjata tersebut akan dilakukan di Kaesong pada bulan Juli 1951, namun akhirnya dipindahkan ke P'anmunjom pada bulan November tahun yang sama. Pembicaraan ini pernah diskors dan berlangsung selama lebih dari setahun sebelum perjanjian akhirnya mencapai kesepakatan  pada tanggal 27 Juli 1953. Melawan kehendak Republik Korea, disepakati bahwa masing-masing pihak harus kembali menarik paksa pasukan sampai batas zona demiliterisasi yang mengikuti garis batas pertempuran pada saat gencatan senjata mulai berlaku. Tahanan dipertukarkan dan Komite Pengawasan netral didirikan untuk memastikan bahwa kedua belah pihak mematuhi perjanjian. Pertempuran selama tiga tahun  telah mengakibatkan banyak kehilangan nyawa dan harta dari kedua belah pihak, dan unifikasi telah dianggap hampir mustahil tanpa perubahan radikal dalam situasi dunia.
Walaupun perang Korea hanya berlangsung selama 3 tahun, namun perang tersebut membawa begitu banyak kesensaraan bagi rakyat Korea. Banyak korban tewas dimedan perang dan sejumlah besar rumah, pabrik dan harta benda yang lain hancur. Yang lebih penting perang telah menyebabkan Rakyat Korea mengalamai penderitaan batin kareka harus hidup terpisah dari sanak saudara, saling mencurigai satu sama lain dan rasa kepercayaan itu tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Dari catatan PBB sebanyak 150.000 orang tewas, 250.000 orang luka-luka, 100.000 orang diculik oleh komunis, 200.000 orang hilang dan jutaan orang  kehilangan tempat tinggal mereka. Pemimpin komunis tidak bersedia mengungkapkan kerugian yang mereka alami namun besar kemungkinan korban dan kerugian  mereka jauh lebih besar dibandingkan Korea Selatan. Sebanyak empat kali direbut dan diambil kembali , Seoul tergeletak dalam reruntuhan, seperti yang terjadi di sebagian besar kota-kota lain di Korea Selatan. Lebih dari setengah fasilitas industri tidak dapat dipergunakan lagi, banyak jalan dan jembatan hancur dan seluruh desa telah hancur di banyak daerah. Tetapi kerusakan paling parah adalah impian Korea untuk bersatu. Ini bukan hanya masalah yang menjadi perhatian untuk Korea saja, tetapi telah menjadi isu dalam konflik dunia yang dikenal sebagai Perang Dingin. Sekali lagi Korea dipaksa menderita karena benturan kekuasaan yang lebih besar dari kekuasaan Korea itu sendiri.

Han,Woo-Keun. 1994. The History of Korea. Seoul Korea:  Eun-Yoo Publishing Company.
Kim,Chum-Kon. 1973. The Korean War. Seoul Korea: Kwangmyong Publishing Company.
Yang dan Setiawati. 2003. Sejarah Korea: Sejak awal abad hingga masa kontemporer. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suryo, Djoko dkk. 2005. Sejarah Korea. Yogyakarta: Pusat Studi Korea Universitas Gadjah Mada dengan The Academy of Korean Studies, Korea