얀녕하세요 ^^

얀녕하세요 ^^

Kamis, 12 Januari 2012

박정희 Park Chung Hee

Masa Jabatan : 17 Desember 1963 26 Oktober1979
Lahir : 30 September 1917, Gumi-si,Gyeongsang Utara, (kini Korea Selatan)
Meninggal : 26 Oktober 1979, Seoul, Korea Selatan (umur 62)
Kebangsaan : Korea
Partai politik : Republik Demokrat
Istri : Yuk Young-soo
Agama : Budhaisme


"Beberapa waktu yang lalu gw buet paper tentang Park Chung Hee, Mantan presiden Korea yg sering disebut-sebut mirip dengan Mantan Presiden kita Soeharto. Saya setuju klo urusan kediktatoran ato nasib istri-istri mereka yang berakhir tragis tertembak senjata. ya..mereka mirip, tp untuk urusan lain saya kurang setuju mereka dimirip-miripkan. Hmm.."

Bagi sebagian rakyat Korea Selatan, nama mantan Presiden Park Chung-hee berarti kematian demokrasi. Namun, bagi sebagian lainnya, nama Park berarti kebangkitan ekonomi.
Park memimpin Korsel dengan tangan besi selama 18 tahun. Park adalah mantan jenderal Angkatan Bersenjata Korsel, lulusan Akademi Militer Jepang Manchuria tahun 1942.
Dia dicela sebagai diktator dan pelanggar hak asasi manusia. Namun, Park juga dipuji karena keberhasilan pembangunan ekonomi yang menempatkan Korsel sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-10 di dunia.
Meskipun menjalankan pemerintahan Korea secara otoriter, Park Chung Hee tidak dipungkiri telah meletakkan landasan bagi kehidupan ekonomi-politik Korea modern. Melalui gerakan Semaul Undong Presiden Park Chung Hee mendorong masyarakat Korea untuk lepas dari sikap menyerah atau kalah, beliau mempelopori kampanye “ Tekat Keberhasilan (Can do Spirit)” yang melahirkan sifat orang Korea yang percaya diri, praktis dan kemampuan tarikan. Meskipun presiden Park ini adalah seorang diktator beliau sama sekali tidak pernah terkena korupsi, beliau juga tidak pernah memperbolehkan bocornya kekuatan politik. Untuk itu, beliau selalu menggunakan tangan besinya dan juga tidak memanfaatkan kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya.. Beliau dikenal sebagai ahli untuk mendudukkan orang (manning) dan mengurus tugas yang diembannya (managing). Presiden Park juga telah berhasil mengumpulkan dan memobilitasi tenaga kerja dengan enerji yang dimilikinya. Presiden Park jarang tertawa, namun didekat rakyat umum beliau suka tersenyum dan suka bergaul, bahkan minum mag-geol-ri bersama para petanPark mengalami dua kali percobaan pembunuhan karena kediktatorannya. Pertama, pada Januari 1968, dia dicoba dibunuh oleh seorang penyusup dari Korea Utara, tetapi gagal.
Percobaan pembunuhan kedua terjadi pada Agustus 1974, juga oleh seorang agen dari Korut, saat Park memberikan pidato perayaan kemerdekaan. Sayang, peluru justru mengenai istrinya, Yuk Young-soo, yang meninggal saat itu juga.
Pada Oktober 1979, Park ditembak oleh Kim Jae-kyu, Kepala Badan Intelijen (saat itu). Kim menganggap Park menghalangi demokrasi dan menyatakan tindakannya sebagai patriotisme.
(http://indonesiasetara.org/keajaiban-sungai-han-korea/
http://klikinter.blogspot.com/2007/06/korea-selatan-park-chung-hee-dipuja-dan.html
http://www.forumkami.net/berita/160428-inilah-cara-keberhasilan-korsel-menjadi-negara-industri.html
Wikipedia.org)

Selasa, 10 Januari 2012

Budaya Nasional dan Budaya Perusahaan Korea

Ini dia sedikit cerita tentang Budaya Nasional dan Budaya Perusahaan Korea^^ (menarik sekali loh, kebetulan lagi buat proposal penelitian tentang budaya kerja salah satu perusahaan Korea)
Keselarasan dan stabilitas: Konfusianisme mengatur norma-norma prilaku bagi orang Korea yang telah berlangsung selama lima ratus tahun sejak masa dinasti Choson. Sampai saat ini ajaran Konfusianisme masih besar peranannya dalam kehidupan keluarga dan sosial. Menurut semangat dasar Konfusianisme tradisional, loyalitas antara raja dan rakyatnya merupakan suatu keharusan, hubungan erat antara kedua orang tua dan anak-anak adalah penting dan perlu, peran-peran berbeda ada diantara kaum tua dan kaum muda, dan harus ada keyakinan antara teman. Artinya etika mengenai hubungan vertikal dan horizontal harus diamati agar bisa menetapkan stabilitas dalam keluarga dan masyarakat melalui keselarasan (Hahn, 1988). Dengan demikian, konfusianisme memiliki pengaruh yang besar terhadap ideologi manajemen, perilaku organisasi, sistem manajemen dan hubungan manusia. Perusahaan Korea secara khas menekankan keselarasan, kesatuan dan kerjasama, kreativitas dan pengembangan.
Suksesi yang Tidak Setara, Warisan kekayaan keluarga dalam sistem keluarga Korea berbentuk warisan yang tidak setara dimana anak laki-laki tertua diberi perlakuan istimewa. Dalam kehidupan keluarga Korea, ada sistem yang disebut keluarga utama yang akan digantikan oleh anak-laki-laki tertua. Pada waktu tertentu, meskipun ada kekayaan yang cukup untuk didistribusikan secara merata di kalangan anak laki-laki, lazimnya saham terbesar diberikan kepada anak laki-laki tertua. Pembagian warisan yang tidak setara ini memiliki makna yang penting ketika diterapkan pada suksesi suatu perusahaan. Namun demikian, dalam banyak perusahaan di Korea, tidak semua otoritas pendiri dipindahkan kepada penerusnya.
Eksklusivisme dan Sentralisasi Kekuasaan, Dalam kehidupan sosial tradisional Korea, pertalian darah dan status sosial mengandung latar belakang sikap orang Korea yang menimbulkan suatu cara berpikir yang eksklusif dan tertutup. Hal ini juga berlaku pada masyarakat Korea secara umum untuk menjaga urutan keluarga dikonsentrasikan pada kepala keluarga dan anggota keluarga yang tertua yang membentuk suatu struktur otoritas kekuasaan yang tersentralisir. Dalam melakukan ritus-ritus pengorbanan bagi pemujaan leluhur yang merupakan perluasan dari ketaatan anak laki-laki atau perempuan, keluarga langsung memiliki prioritas tersebut. Para kerabat dekat dan jauh, kaum manula dan kaum muda semua dibedakan, begitu juga yang berhubungan darah dan yang tidak. Bahkan di antara hubungan pribadi, orang-orang yang intim dan orang-orang yang tidak intim juga dibedakan sehingga merangsang timbulnya fraksionalisme (faham berdasarkan golongan). Prinsip tradisional sikap eksklusif dan sentralisasi kekuasaan juga menimbulkan dampak yang besar terhadap struktur kekuasaan dalam berbagai perusahaan bisnis Korea. Prinsip ini lebih jelas dipraktikkan oleh individu atau kelompok yang memiliki hak kepemilikan atas perusahaan, ketika mengamankan dan mempertahankan hak-hak pengelolaan.
Prinsip Senioritas, Prinsip ini digunakan dalam organisasi manajemen Korea sebagai standar yang digunakan untuk meningkatkan atau menaikkan gaji yang didasarkan pada prinsip personal. Prinsip personal adalah suatu prinsip yang dapat digunakan secara universal dan berlaku pada semua orang ketika mengevaluasi seseorang dalam kehidupan sosial Korea. Prinsip senioritas dapat dikatakan sebagai penghargaan yang diberikan oleh perusahaan pada karyawan senior, karena mereka sudah ikut berjuang membesarkan perusahaan, dan pengorbanannya selama ini diakui oleh perusahaan dengan cara memberikan tingkat kesejahteraan lebih tinggi dibandingkan karyawan yunior. Peran anggota-anggota keluarga juga ditentukan menurut derajat. Banyak kelas dan urutan derajat sangat ketat dalam keluarga dengan kepala keluarga sebagai pusat. Masing-masing individu melakukan kewajibannya sendiri menurut urutannya dalam derajat: ayah, suami, istri dan anak (Shin, 1984).
Otoritas Patriarkal dan Keselarasan, Dalam kehidupan keluarga tradisional Korea, ayah memiliki hak sebagai kepala keluarga dan hak sebagai ayah, sehingga ia menggunakan otoritas mutlak dan sepihak (sistem patriarkal) untuk mengatur orang-orang di bawahnya guna kesejahteraan keluarga. Namun demikian kepala keluarga tidak selalu menggunakan otoritas sepihak, ia juga menekankan keselarasan, memperlakukan keluarga dengan hangat, mengendalikan dan mendorong aktivitas anggota keluarganya (dikendalikan juga oleh orang yang lebih tua) untuk memperoleh kepatuhan mereka. Metode kontrol berdasarkan otoritas dan keselarasan dalam kehidupan keluarga tradisional ini mempengaruhi kepemimpinan manajemen dalam dua cara, yaitu para anggota perusahaan sadar bahwa otoritastradisional para senior dalam derajat ditetapkan secara luas dan dalam cara yang sama, keselarasan sangat ditekankan dalam organisasi.
Kepatuhan dan Ketundukan, Norma-norma perilaku masyarakat Korea didasarkan pada konsep kepatuhan anak-anak pada orang tua (terlihat jelas pada hubungan ayah dengan anak laki-lakinya). Dalam kehidupan sehari-hari orang harus berbicara dengan penuh hormat, bersikap beradap terhadap orang lain di luar keluarga yang lebih tua atau memiliki posisi lebih tinggi. Seseorang harus mengidentifikasi dirinya dalam kelompok sosial tersebut (sense of belonging), dan menunjukkan rasa
hormat pada orang-orang di atasnya. Cara berpikir tradisional ini mempengaruhi hubungan vertikal antara para majikan dan karyawan. Anggota perusahaan Korea menganggap hubungan vertikal lebih penting daripada hubungan horisontal. Penekanan pada hubungan vertikal menimbulkan komunikasi ke bawah secara sepihak dan merupakan alasan bagi timbulnya konsentrasi pengambilan keputusan pada tingkat- tingkat atas organisasi tersebut.

(Paik, Yongsun dan Crish Rowley. 2009. The changing Face of Korea Management. USA dan Kanada: Roudletge
http://fe.um.ac.id/wp-content/uploads/2010/01/Wening_51.pdf, (Diunggah pada 1 Januari 2012, 20.21)